Minggu, 15 Mei 2011

Belajar Hidup Sederhana

Sebelum perfilman di Indonesia mulai bangkit. Film-film India pernah menjamur di Indonesia. Saya termasuk salah satu penggemarnya saat itu. Film India mempunyai ciri khas tersendiri. Selain waktu tayang yang tidak pernah kurang dari 3 jam, film India sangat khas dengan gaya tradisionalnya. Biarpun dalam film tersebut bersetting di luar India tetapi pasti nyanyian dan tarian tidak akan pernah hilang. Satu lagi yang pasti membuat terperangah adalah gaya hidup mereka yang wah. Dan itu akan menunjukkan bahwa kehidupan di India seperti apa yang mereka gambarkan dalam film-film mereka.
Ternyata persepsi kita salah. Jumlah penduduk India di atas 1,3 miliar jiwa dan 70 persen berpenghuni di pedesaan. India menempati posisi ke dua penduduk terbanyak setelah China, kemudian bencana alam & kelaparan yang sering melanda negeri ini. Bandingkan dengan negara kita yang berjumlah 220 juta penduduknya.
Di ibukota-ibukota provinsi dapat kita temui mobil-mobil mewah berkeliaran seperti Mercy atau BMW. Kendaraan yang mendominasi di India adalah Tata Ambasador. Modelnya sangat kuno, mirip mobil Fiat produksi Italia 1970-an. Mobil ini menjadi mobil kebanggaan India. Tata Ambasador merupakan mobil dinas wajib pejabat India. Mobil tersebut wajib berwarna putih. Kenapa? karena putih dapat meredam cuaca panas di India. Menurut meraka yang terpenting adalah fungsi operasionalnya. Coba kita jika para pejabat Indonesia di sediakan mobil Tata Ambasador, maka apa yang akan terjadi???? paling jelek mobil yang disediakan oleh Pemerintah Indonesia mungkin Kijang Innova. Oleh sebab itu, sebaiknya pejabat-pejabat di Indonesia bersyukur dan lebih meningkatkan kerjanya.
Dari segi pendidikan dan SDM nya, India jelas lebih unggul dari Indonesia. Seluruh perguruan tinggi di India mewajibkan siswanya untuk memakai bahasa inggris sebagai bahasa pengantar, tidak hanya di perguruan tinggi tetapi juga sudah di mulai dari pendidikan dasar samapai menengah. Dan semua buku pengantar menggunakan bahasa inggris. Selain itu yang menjadi andil menggunaan bahasa inggris adalah India merupakan negara jajahan inggris. Andai waktu dapat di putar kembali mungkin kita bisa memilih agar Inggris saja yang menjajah negara kita, kenapa harus Belanda dan Jepang? karena sampai sekarang kita belum bisa menggengunakan kedua bahasa negara tersebut.
Tidak mengherankan jika Pendidikan di India jauh lebih maju dibandingkan Indonesia. India sudah mampu bersaing di tingkat Internasional karena alumninya tersebar diseluruh dunia. Sebagai Informasi dokter-dokter yang bekerja di Amerika Serikat 30% berasal dari India dan di Perusahaan besar (Microsoft) milik Milyuner ‘Bill Gates’ itu juga tidak kurang dari 30% tenaga engineernya berasal dari India. Dimana untuk Indonesia hanya beberapa orang beruntung saja yang dapat bekerja di Microsoft.
Selain itu biaya pendidikan di India sangat murah. Untuk menyelesaikan S-2 di perguruan tinggi top sekelas Universitas Delhi, misalnya, mahasiswa India hanya perlu dana pendidikan Rs (Rupee India) 5.000 (sekitar Rp 1.250.000). Bandingkan dengan di Indonesia, misalnya, saya mahasiswi S-2 di UIN Malang setiap semesternya harus membayar Rp.3.000.000,-.
Dapat kita murahnya biaya pendidikan tingginya menunjukkan bahwa pemerintah India sangat memperhatikan pendidikan rakyatnya. Hal itu tidak terlepas dari misi pemerintah yang lebih mengedepankan kemampuan SDM (sumber daya manusia). Bagi pemerintah India hal yang terpenting adalah human capital (modal manusianya).
Meski dalam kesederhanaan dan gaya hidup superhemat tersebut, tidak berarti mutu pendidikannya rendah. Bahkan, perguruan tinggi di India termasuk tujuan pelajar asing, terutama dari negara-negara Asia. Selain karena mutu pendidikannya, banyaknya pelajar asing memilih India sebagai tempat belajar juga disebabkan murahnya biaya hidup di negeri itu. Sikap hidup sederhana dan hemat warga India berpengaruh terhadap biaya hidup di sana.
Selain dari India kita belajar hidup sederhana. Mari kita belajar hidup sederhana dari Rasululllah. Rasulullah SAW adalah satu teladan mulia yang memperlihatkan sikap sederhana. Meskipun beliau memiliki kedudukan terpandang di masyarakat Arab kala itu, beliau sama sekali tidak berobsesi dan berkeinginan untuk memamerkan kedudukannya. Rumah beliau sangat sederhana, alas tidur pun hanya pelepah daun kurma yang membekas di pipi beliau setiap kali bangun tidur. Sikap hidup sederhana ini pulalah yang dibudayakan oleh para khalifah sepeninggal Nabi SAW.
Kalau kita dapat memahami bahwa hidup sederhana itu indah, maka kita akan mudah melepaskan diri dari keserakahan, sekaligus ikut merasakan derita orang lain. Jadi, seseorang yang biasa hidup mewah, perindahlah hidup anda dengan kesederhanaan.
Pola hidup sederhana merupakan sebuah keindahan dari kekuatan mengendalikan diri dari hawa nafsu dan keserakahan. Meski untuk menjadi kaya-raya tidak dilarang agama. Termasuk siapa pun, tidak dilarang punya mobil mewah, rumah mewah, kapal pesiar yang mewah dan perhiasan mahal, namun asal kekayaannya itu diperoleh secara halal.
Toyohiko Kagawa, filsuf Jepang pernah mengatakan, jika kita ingin hidup bahagia, kita harus hidup sederhana. Apabila engkau memakai jas yang mahal, engkau pasti khawatir akan rusak, kotor atau hilang. Apabila engkau mengelilingi dirimu dengan barang mewah, engkau sering khawatir, barang itu hilang atau rusak. Di mana hartamu berada. di situ pikiranmu berada. Engkau akan terbelenggu, oleh sesuatu yang fana.
Jadi tidak ada salahnya jika masyarakat Indonesia belajar hidup sederhana. Karena hidu sederhana bukan berarti miskin. Pola hidup yang sederhana akan lebih membawa dampak positif. Gaya hidup sederhana akan membuat kita menjadi lebih hemat. Dan hidup sederhana akan bersikap lebih murah hati, bijaksana, sabar dan tawakal, sehingga nurani kita akan lebih peka terhadap penderitaan yang banyak menimpa saudara kita.
Dan yang paling penting, dengan gaya hidup sederhana ini akan lebih ingat kepada ALLAH dan selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan-NYA. Jadi tidak salah dong jika kita bergaya hidup sederhana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar